Sebuah surat untuk bangsa :)
Surat Cinta dari Barat, untuk Negeri Tersayang.
Menutup Pintu Kusam masa lalu, demi mengintip Jendela Cerah hari esok.
Jika Anda orang-orang timur berbicara mengenai penjajahan, kolonialisme dan imperialisme bangsa barat beberapa abad kemarin, saya mengakui Anda benar. Peradaban saya (barat) melakukan sebuah kesalahan besar dengan menjajah nenek moyang Anda. Akan tetapi jika Anda berbicara masalah globalisasi, hegemoni, pasar bebas,dan neo-kolonialisme sebagai dalih untuk memaki kami saat ini, dengan segala hormat, sepertinya Anda salah.
Seribu tahun lalu, peradaban Anda mengalahkan kami dalam perang ke-7, Richard The Lion Heart terpaksa pulang dan berkata “Sultan Saladin telah menang”. Akan tetapi, kami berpikir dan kami tahu pasti, kami harus belajar untuk mengalahkan Anda. Kami melakukan renaissance dan kami bangkit dengan enlightenment. Anda seharusnya berpikir mengapa Hobbes, Locke, Pasteur, Boyle, Newton, Spinoza, Leibnizt, Montesquieu, Rosseau, Kant, Hume, Franklin, Jefferson, dan yang lain lahir di peradaban kami. Menurut Anda, ini karena usaha dan sistem yang kami buat atau karena Tuhan yang memang tidak adil menempatkan pemikir-pemikir tersebut di tempat kami? Jika Tuhan memang yang tidak adil, dengan segala hormat, salahkanlah Tuhan. Kami tidak bersalah sedikitpun atas kebodohan Anda.
Kami membuat bom atom dalam setahun bukan dengan mendongeng cerita seribu satu malam. Kami membangun New York bukan dengan bertahun-tahun mengagumi Borobudur yang selalu kalian bangga-banggakan itu, dan tidak semata-mata terhanyut euforia atas kekayaan sumber daya alam negara kami. Kami mendirikan Oxford bukan dengan mencuri karya Syahyakirti. Kami menggunakan media informasi untuk ilmu pengetahuan, bukan dengan menyiarkan “keroncong-keroncong pembodohan“ layaknya sinetron konyol dinegeri Anda!. Kami menulis konstitusi kami dengan darah kami sendiri bukan dengan meniru seperti yang Anda lakukan. Lalu jika kami lebih kaya, lebih berkuasa, dan lebih pintar dari Anda apakah kami salah? Anda sudah seharusnya menghargai usaha kami dalam seribu tahun terakhir ini.
Mari berbicara tentang hegemoni. Mengapa jika kami berhasil menjual produk budaya kami di timur, Anda mengatakan hal itu sebagai hegemoni budaya? Dengan segala hormat, produk budaya kami lebih dihargai karena kami belajar dan berinovasi, bukan dengan meniru di “Pasar gelap”.
Jika Anda merasa inlander terhadap bangsa kami, dengan segala hormat apakah kami salah? Haruskah kami dihukum karena perasaan Anda? Saya rasa adalah sebuah hukum alam jika yang kuat menang dari yang lemah. Bangsa Anda pernah menjajah bangsa kami di Spanyol dan Balkan. Tetapi kami tidak pernah memprotes Anda.
Dengan segala hormat, coba Anda bayangkan jika ada asteroid yang akan menabrak dunia saat ini, dapatkah Anda mencegah kiamat? Dapatkah Anda bertahan jika ada pademi flu burung, tanpa bantuan kami? Dengan segala hormat, jika itu terjadi maka adalah hak kami untuk menjadi pahlawan terhadap Anda. Sebaiknya Anda tidak lupa dengan bertiliyun-trilyun US Dollar hibah yang kami berikan untuk menyelamatkan Anda dari kemiskinan. Mohon maaf Tuan-Tuan “Edward Said muda”, Peradaban Andalah yang menjajah Anda sendiri. Negeri kami tidak membenarkan perbedaaan jalur mendapatkan kesempatan pendidikan antara borjuis dan masyarakat biasa, hingga kami dengan cepat dapat berkembang dan maju.
Mari kita berbicara tentang globalisasi dan jargon neo-kolonialisme. Globalisasi sangat terkait dengan semangat liberalisme. Dalam hal ini, kami sangat menghargai kebebasan berpendapat, termasuk kebebasan berusaha dan demokrasi ekonomi. Demokrasi ekonomi hanya akan dapat terjadi jika setiap negara diberikan kebebasan yang sama dalam melakukan perdagangan. Argumentasi ini diperkuat oleh kajian yang dilakukan dalam 80 tahun terakhir ini dalam ilmu ekonomi. Anda dapat berkaca kepada para nobelis ekonomi. Mereka semua sependapat “kesejahteraan hanya dapat terjadi dengan pasar bebas”. Saya tidak melihat satupun argumentasi logis dari kelompok timur. Anda hanya berani berkata dalam selebaran jalanan. Tidak ada satupun argumentasi logis di mimbar ilmiah yang secara tegas melawan globalisasi. Saya mengakui globalisasi memang tidak sempurna. Lalu mengapa kita tidak bersatu dalam pasar bebas? Sejumlah kelemahan tersebut harus terus kita dialogkan agar tercipta sebuah tatanan masyarakat global dalam globalisasi yang lebih humanis. Mari bersatu untuk dunia yang lebih baik.
Andai aku orang timur, aku harus sadar bahwa aku tidak dapat bertahan tanpa barat, tidak ada cara lain selain globalisasi. Tulisan ini dibuat dalam rangka propaganda poros anti-globalisasi. Diskusi hangat sangat dinantikan. Jika tulisan ini diabaikan, penulis mengganggap poros anti-globalisasi telah sadar, dengan ikhlas memaafkan dan dengan segera menerima niat baiknya.. Mari bersatu untuk dunia yang lebih baik. Semoga kekeliruan selama ini menjadi bahan renungan kita bersama.
———————————————————————————————————————-
Terima kasih kepada: World Bank, IMF dan ADB atas pemberian hutang selama ini.
Semoga disebarkan, dan dapat menjadi inspirasi dari sudut pandang yang berbeda.Mari kita bangkit dan berbenah. :) merah darahku, putih tulangku. Indonesa jiwa raga kami.